Pemerintah Rusia Menyoroti Latihan Militer Gabungan Sebagai Ancaman Keamanan

13 Februari 2024, 17:58 WIB
Ilustrasi - Pemerintah Rusia Menyoroti Latihan Militer Gabungan Sebagai Ancaman Keamanan /Pixabay - Military Material/

KILAS KLATEN– Dalam suasana geopolitik yang tegang, ketegangan antara negara-negara besar semakin menjadi perhatian global. Belakangan ini, perhatian tertuju pada latihan militer gabungan yang melibatkan Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Australia di sekitar pulau Hokkaido.

Pemerintah Rusia menyoroti latihan militer gabungan Jepang, Amerika Serikat (AS), dan Australia di sekitar pulau Hokkaido, menganggapnya sebagai potensi ancaman keamanan.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa latihan tersebut, di dekat perbatasan Rusia, diartikan sebagai tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan, dan Moskow berkomitmen untuk memperkuat pertahanannya sebagai respons.

Kami menganggap aktivitas provokatif yang melibatkan negara-negara non-regional sebagai potensi ancaman keamanan,” Ujar Kemenlu Rusia.

“Kami memperingatkan bahwa kebijakan pemerintahan (Perdana Menteri Jepang Fumio-RED) Kishida yang tidak bertanggung jawab menempatkan Tokyo pada jalur peningkatan ketegangan di Asia Timur Laut dan kawasan Asia-Pasifik secara keseluruhan. Kami akan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk lebih memperkuat kemampuan pertahanan negara kami,” Ujarnya menambahkan.

Baca Juga: Ukraina Nyatakan Rusia Serang Militer dan Sarana Infrastruktur Kota Kiev

Hubungan antara Rusia dan Jepang memburuk sejak Tokyo bergabung dengan Barat dalam memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Moskow, terkait dengan perang di Ukraina yang dimulai pada Februari 2022 dan masih berlanjut hingga kini.

Selain konflik terkait sanksi, keduanya juga memiliki perselisihan teritorial terkait Kepulauan Kuril.

Pertikaian atas gugus pulau kecil tersebut telah menghambat penandatanganan perjanjian perdamaian setelah Perang Dunia II, dengan Moskow mengumumkan penghentian negosiasi yang telah berlangsung puluhan tahun setelah Jepang memberlakukan sanksi terhadap Rusia terkait Ukraina. terhadap Moskow terkait Ukraina.

Sejak berakhirnya Perang Dunia II pada 1945, Rusia dan Jepang telah melakukan serangkaian konsultasi untuk mencapai perjanjian damai. Pada tahun 1956, keduanya menandatangani Deklarasi Bersama, menandai berakhirnya konfrontasi dan pemulihan hubungan diplomatik.

Dalam deklarasi tersebut, mereka sepakat melanjutkan negosiasi perjanjian perdamaian serta menangani sengketa teritorial di Kepulauan Kuril Selatan, yang menjadi bagian Uni Soviet setelah Perang Dunia II. Meskipun demikian, Jepang masih menolak kepemilikan atas Iturup, Kunashir, Shikotan, dan Habomai.

Berdasarkan Deklarasi Bersama tahun 1956, Uni Soviet setuju menyerahkan Kepulauan Shikotan dan Habomai kepada Jepang. Namun, pada 1960, Jepang menandatangani perjanjian keamanan dengan AS, menyebabkan Uni Soviet membatalkan niatnya untuk menyerahkan Shikotan dan Habomai.

Saat itu, Soviet menyatakan akan menyerahkan pulau-pulau tersebut hanya setelah semua pasukan asing ditarik dari wilayahnya. Hingga kini, persengketaan atas wilayah tersebut masih berlanjut. ***

Editor: Fajar Sidik Nur Cahyo

Tags

Terkini

Terpopuler